Preventif Epidemi COVID-19, DALWA Menerapkan Social Distancing, Lockdown Akses, Penyemprotan Disinfektan dan Mengamalkan Thibbun Nabawi

Terkait maraknya Pandemi Covid-19 dan sudah banyak dari berbagai lembaga pendidikan meliburkan kegiatan belajar-mengajarnya. Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Ponpes Dalwa) saat ini termasuk salah satu lembaga yang masih bertahan dan belum memulangkan santri-santrinya. Karena tujuan dari pulangnya para santri ialah untuk mengisolasi diri dengan bertahan dirumahnya masing-masing dan tidak keluar rumah jikalau tidak ada keperluan yang sangat penting serta melakukan social distancing dengan jarak minimal satu meter. Maka Mudirul Ma’had memilih untuk tidak memulangkan para santri karena ditinjau dari keperluan para santri yang saat ini lebih aman berada di dalam Pondok hingga batas waktu yang belum ditentukan daripada harus pulang.

Mekanisme yang pesantren terapkan untuk mangantisipasinya penyebaran Pandemi Covid-19 di tengah-tengah ujian kenaikan kelas diniyah, diantaranya me-lockdown jalur keluar-masuk para asatidzah, santri ,musaidin (bagian khidmah di pondok) dan tamu. Begitu juga pasokan makanan yang dari luar untuk sementara ini tidak diperbolehkan masuk hingga waktu yang belum ditentukan.

Selain itu, untuk mengantisipasi penyebaran virus di lingkungan pesantren, pimpinan pondok juga membangun wastafel-wastafel yang dilengkapi dengan sabun antiseptik yang tersebar diberbagai titik, penyemprotan disentifektan, hingga membagi kapsul habbatussauda dilakukan agar para santri tercegah dari virus yang teridentifikasi pada akhir 2019 kemarin. Selain itu, pihak pesantren juga menyebar hand sanitizer di beberapa tempat yang dianggap rentan seperti gerbang depan, samping, serta gebang belakang.

Tidak sampai disitu, upaya pesantren dalam memerangi pandemi ini juga dilakukan dengan rutinitas senam dibarengi dengan dzikir yang dilakukan setiap pagi selain dimaksudkan menjaga sistem kekebalan tubuh, dengan lantunan dzikir diharapkan Allah سبحانه و تعالى segera mencabut wabah yang meresahkan dunia internasional akhir-akhir ini.

Untuk tahun ini sebagai perwujudan taat pada aturan pemerintah dan MUI, Dalwa menangguhkan serta menunda prosesi wisuda IAI Dalwa, wisuda kelas III Aliyah Diniyah, ujian  skripsi, ujian tesis, penerimaan mahasiswabaru S1, S2, S3 dan santri baru, PKL semester akhir mahasiswa, orientasi mahasiswa baru, haflah akhir sanah dan lain-lain. Begitu juga acara-acara kecil lainnya yang mengundang keramaian. Bahkan hari libur semester yang seharusnya jatuh pada 19 April juga diundur, akan dijadwal ulang setelah pemerintah menyatakan keadaan benar-benar aman.

Sanlat ramadhaniyah (pesantren kilat) juga turut terkena imbasnya. Even yang rutin diadakan tiap Ramadan, pada tahun ini terpaksa diliburkan jikalau dalam waktu-waktu ini Pandemi Covid-19 belum juga reda.

Kebijakan pesantren yang belum berani memulangkan santri-santrinya bukan tanpa sebab. Hal ini dilakukan mengingat sebagian besar santri berasal dari luar kota, bahkan luar pulau. Apabila dipulangkan, akan muncul masalah baru karena selama perjalanan, mereka bertemu banyak masyarakat yang majemuk sehingga dikhawatirkan, ketakutan yang selama ini dikhawatirkan, menjadi kenyataan.

Ditengah-tengah cobaan ini sebagai muslim kita dianjurkan berikhtiar dan bertawakkal kepada Allah S.W.T. dengan melakukan shalat hajat sebelum tidur, serta shalat tahajud saat bangun tidur dengan terus berdo’a meminta pertolongan dari Allah سبحانه و تعالى, agar wabah ini cepat reda.

Ustadz Ismail Ayyub sebagai Ketua Departemen Urusan Kesiswaan Ponpes Dalwa memberi arahan kepada para santri atas perintah langsung dari Mudirul Ma’had setelah maghrib untuk membaca Qashidah Burdah karya Imam Al-Bushiry, yang mana qasidah ini disusun karena beliau tertimpa sakit kelumpuhan yang tak kunjung sembuh walaupun sudah berobat ke dokter manapun. Tak lama kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah S.A.W. dan memerintahkannya untuk menyusun syair yang berisi pujian kepada Rasulullah. Maka beliau mengarang Burdah dalam 10 pasal pada tahun 6-7 H. Seusai menyusun Burdah, beliau

kembali mimpi bertemu Rasulullah yang menyelimutinya dengan Burdah (mantel). Ketika bangun, sembuhlah beliau dari sakit lumpuh yang dideritanya.

Selain itu para santri juga diberi amalan oleh Mudirul Ma’had Abuya al-Habib Zein bin Hasan Baharun dari Sang Mu’assis Ma’had Abuya al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun yang dibaca sebanyak 41 kali dengan membawa segelas air. Berikut doanya:

تَحَصنْتُ بِذِي الْعِزِّ وَ الْجَبَرُوت وَ اعْتَصَمْتُ بِرَبِّ الْمَلَكُوت وَ تَوَكَّلْتُ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوت ,

اللّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا الْوَبَاء وَ قِنَا شَرَّ الدَّاء بِلُطْفِكَ وَرَحْمَتِكَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر .

Setelah itu ditiupkan ke dalam gelas, diminumkan, lalu di percikkan ke segala sisi pekarangan.

Semoga kita dijauhkan dari segala macam penyakit sehingga menambah rasa giat dan syukur kepada Allah سبحانه و تعالى.Dzaki/red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *