Sambang Dalwa, POLRI Gandeng Pesantren dalam Preventif Terorisme

Bangil, Dalwa Berita- Perkuat silaturrahmi, Kasubdit Bintibsos Korbinmas Mabes Polri, Kombes. Pol. Asep I Rosadi, M.PA. serta beberapa rombongan dari Polda Jatim dan Polres Pasuruan sambangi Dalwa. Kunjungan dalam rangka mempererat kemitraan polisi dan masyarakat tersebut membahas beberapa aspek yang menjadi keprihatinan bersama diantaranya cara penanggulangan terrorisme, radikalisme dan intoleransi. Silaturrahmi yang diadakan pada Rabu (07/04/21) ini bertempat di Roshefah Room Dalwa Hotel Syariah.

Dalam sambutannya polisi yang dulunya bertugas di polres Kayong Utara Kalimantan Barat tersebut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak pesantren atas sambutannya yang luar biasa. Ia mengungkapkan bahwa bayangan yang selama ini Ia impikan ada di Dalwa.

“Saya sudah lama berharap saya ingin punya Lembaga yang berjajar (luas). Disampingnya ada hamparan sawah. Dan ketika saya memasuki pondok ini, seakan ini jawaban atas bayangan saya selama ini.”

Setelah sambutan, sosialisasi dilanjutkan dengan testimoni dari Nasir Abbas Mantan Pimpinan Jamaah Islamiyah yang dulu sering terlibat dalam aksi-aksi terrorisme khususnya di Indonesia.  Ia mengungkapkan awal mula Ia terjangkit terrorisme ketika berumur 16 tahun. Saat itu dirinya merasa intoleran hingga membawanya bergabung menjadi anggota Jamaah Islamiyah.

Dirinya bercerita ketika umur 16 tahun tak segan-segan menegur orang yang membaca usholli dalam dalam sholat. Karena dalam pemahamannya lafadz tersebut tidak diucapkan Nabi ketika sholat, dan setiap yang tidak dilakukan Nabi adalah bid’ah dan para pelakunya diganjar dengan neraka. Ia juga menilai fanatik berlebihan terhadap suatu faham akan membuat seseorang melakukan apa saja demi faham yang ia ikuti.

“Mulai mengkotak-kotakkan paham satu dengan yang lain, sehingga menilai kelompoknya  paling benar dan menyalahkan bahkan mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengannya adalah salah satu jalur intoleransi.” ungkap Nasir, yang merupakan mantan pimpinan mantiqi (regional) III JI yang meliputi Mindanao, Kalimantan Timur hingga Sulawesi ini, juga menambahkan ada dua indikasi seseorang terjangkit aksi terror. Pertama, kurangnya ilmu agama, dan tidak memahami perbedaan.

“Setidaknya ada dua indikasi seseorang terjangkit terrorisme. Pertama ia sedikit sekali pemahamannya terhadap agama jadi hanya berpatokan kepada dalil tertentu dan tidak mengambil dalil lain yang bertentangan dengan hujjahnya. Dan yang kedua ia sama sekali acuh tak acuh mengenai perbedaan yang ada disekitar. Merasa kelompoknya paling baik, mengkafirkan kelompok lainnya, dan ini yang bahaya.”

Sebelum memasuki ruangan, para tamu melakukan tes GeNose untuk memastikan tidak ada yang terpapar Covid-19. Hal ini dilakukan sebagai upaya dalam memutus rantai penyebaran Covid-19.

Turut hadir dalam sosialisasi ini Ipda Januar Ubaidillah Solehan, Bripda M. El maliki, Ustadz Nasir Abbas (mantan napiter) dan beberapa staff kepolisian. Selain itu silaturrahmi ini juga dihadiri oleh beberapa asatidzah pesantren seperti Ustadz Ismail Ayyub, M.Pd.I., Dr. Zainal Abidin Bilfaqih, Dr. Sholahuddin Hasyim, Habib Abu Bakar Assegaf dan beberapa staf pengajar lainnya.Fahri/red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *