Cegah Radikalisme dan Terorisme, IAI Dalwa Bersama Universitas Brawijaya Gelar Seminar Peradaban

Bangil, Dalwa Berita- IAI Dalwa bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya Malang, menggelar seminar peradaban sekaligus penandatanganan MoA (Memorandum of Agreement/MoA).

Seminar ini mengusung tema “Pembangunan Peradaban Bangsa dengan Nilai-nilai Rahmatan lil ‘Alamin dalam Rangka Mencegah Radikalisme dan Terorisme”.

Kegiatan tersebut berpusat di Rushaifa Room auditorium Dalwa hotel, Bangil, Pasuruan Selasa, (9/11).

Seminar tersebut menghadirkan dua pemateri yakni Wakil Dekan Umum dan Keuangan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli SE. M.SI. dan Sekretaris Prodi Program Doktoral IAI Dalwa, Dr. Kholil Hasib M. Ud.

Tampil sebagai pemateri pertama adalah Wakil Dekan Umum dan Keuangan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli SE. M.SI. beliau mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat sedang dihadapkan dengan dua hal yang paling ditakuti oleh dunia. Pertama yaitu merebaknya virus Corona, yang kedua adalah tindak terorisme. dua hal ini memiliki sifat yang sama, yaitu sama-sama mematikan, tetapi ada perbedaan dalam menangani kedua hal tersebut.

Dalam penanganan virus corona, kita berhasil membentuk kerjasama sosial di masyarakat dengan adanya kegiatan saling membantu dan mensupport orang-orang yang terjangkit virus sehinga orang itu sembuh. Tapi lain halnya dengan penanganan terorisme, orang-orang yang terjangkit faham radikalisme itu malah dijauhi dan tidak dipedulikan sehingga mereka yang terjangkit atau yang berpotensi terjangkit faham radikalisme- terorisme itu sulit untuk sembuh.

“fungsi lembaga sosial di kita saat ini banyak yang hilang, hilang rasa percaya kepada komunitas, hilang rasa percaya kepada tetangga sendiri” ujar beliau.

Sebagaimana halnya dalam memerangi virus, seharusnya masyarakat juga bisa memerangi tindak terorisme dengan cara membentuk kerja sama sosial.

Sekretaris Prodi Program Doktoral IAI Dalwa, Dr. Kholil Hasib M. Ud. Sebagai pemateri kedua menyampaikan bahwa masyarakat harus sama-sama memahami apa yang dimaksud dengan Radikalisme itu.

Radikalisme itu adalah sebuah faham atau aliran politik yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan. Hal ini pertama kali muncul di Inggris pada akhir abad ke 18.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun Radikalisme diartikan sebagai kekerasan di bidang politik, jadi tidak ada istilah radikal di dalam agama. Dalam Islam ada istilah Al Ghuluww yang berarti berlebih-lebihan di dalam segala sesuatu dan Islam melarang akan hal tersebut.

Imam Ghazali dalam kitabnya Al Iqtishad fil I’tiqad  pun menjelaskan bahwa seseorang itu dilarang untuk berlebih-lebihan dalam sesuatu.

Saat membahas tentang peradaban, Dr. Kholil mengutip pernyataan Prof. Muhammad Naquib Al-Attas “Peradaban itu di ambil dari kata adab. Di dalamnya ada ragam budaya yang basisnya adalah nilai-nilai keislaman”.

Sedangkan Dr. Imran lebih kepada kenapa saat ini banyak sesama warga negara saling bermusuhan, saling mencari kesalahan satu sama lain, tidak lain karena kurangnya mereka membaca sejarah. Selain itu, faktor penyebab  mundurnya peradaban Islam adalah karena selama ini kita terlalu lama menceraikan antara ilmu agama dengan ilmu sosial dan sains.

“Peradaban tidak akan bangun jika kita terus bercerai-berai”. Tutur beliau.

Di akhir seminar, Dr.Habib Ali Zainal Abidin Bilfaqih, M.Pd memberi kesimpulan pada closing statement “jika ingin dunia ini bangkit dengan peradaban yang gemilang, maka kita harus merubah dunia ini ke nilai-nilai keislaman yang benar”. Kemudian seminar ditutup dengan pembacaan doa oleh Kepala Program Studi Doktoral yang dilanjutkan dengan pemberian cinderamata kepada para narasumber. Afdillah/red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *