Tim Peneliti IAI Dalwa Melakukan Ekspedisi ke Daerah Terpencil dan Masyarakat Marginal untuk Research and Empowerment

DUWET-TUMPANG = Pada hari Kamis 28 Pebruari 2019 Tim Peneliti dari IAI Dalwa yang berjumlah 7 orang melakukan observasi lapangan pada daerah terpencil di kawasan Duwet Krajan, Tumpang – Malang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk meninjau lokasi daerah terpencil yang masyarakatnya belum berdaya dalam hal ekonomi dan sosial. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui permasalahan di lapangan dan akan dijadikan sebagai data untuk penelitian dan pemberdayaan (Research and Empowerment) yang akan dirumuskan oleh Lembaga Penelitian (Lemlit) IAI Dalwa pada awal bulan Maret 2019.

Daerah yang disasar pada observasi kali ini terletak di desa Duwet Krajan, kecamatan Tumpang – Malang, yang lokasinya merupakan daerah pegunungan (sekitar 30 KM menuju Gunung Bromo). Masyarakat di sana terbilang belum berdaya dalam hal ekonomi karena mata pencaharian mereka hanyalah buruh tani dengan hasil pertanian seperti Mentimun, Kubis, Cabe, dan lain-lain. Namun hasil pertanian tersebut tidaklah banyak karena daerah yang belum dioptimalkan oleh desa. Masyarakat di sana hanya mengandalkan penjualan hasil pertanian yang dijual kepada tengkulak dan masyarakat tidak mempunyai alternatif pengembangan usaha mikro yang dapat dijadikan sebagai tambahan penghasilan sehari-hari. Di daerah tersebut juga terdapat sumber air pegunungan yang menjadi sengketa antara perusahaan dengan masyarakat sekitar, sehingga proyek sumber air pegunungan untuk disalurkan ke daerah-daerah yang membutuhkan juga terhambat, karena masyarakat lebih memilih dijadikan sebagai destinasi wisata air terjun dari pada untuk pembangunan sumber daya air pegunungan. Jika dijadikan destinasi wisata, lokasinya jauh dan terjal (sekitar 1 KM) untuk mencapai lokasi, sehingga akses menuju ke lokasi juga sulit dijangkau.

Duwet merupakan desa kedua setelah desa Sumberkencono di Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi yang menjadi observasi peneliti. Di desa Sumberkencono merupakan daerah pesisir namun tidak berdaya karena dua pertiga wilayah dikuasai oleh perusahaan asing untuk usaha pertambakan dan perikanan, sedangkan masyarakat yang menjadi nelayan sangat sedikit, kalaupun ada hasil tangkapan laut diborong oleh tengkulak dengan harga yang sangat murah. Tidak ada usaha mikro berbasis kelautan dan perikanan di daerah tersebut sehingga masyarakat lebih suka menjadi pekerja pabrik daripada mengelola sumber daya laut, sehingga hal tersebut yang menjadi kesempatan para investor asing melebarkan sayapnya menguasai wilayah pesisir. Dan akibat secara langsung dari masalah tersebut ialah rusaknya ekosistem dan biota laut. Perlu kesadaran berupa pendidikan dan sosialisasi serta pemberdayaan kepada masyarakat akan potensi lokal yang begitu besar dan pelestarian sumber daya alam untuk jangka panjang.

Maka dari itu, Lembaga Penelitian (Lemlit) sangat responsif terhadap problem pada kedua desa tersebut dengan cara melakukan program penelitian dan pemberdayaan (research and empowerment). “Pada bulan Maret dan April 2019 kami punya sejumlah program penelitian dan pemberdayaan yang bertujuan untuk memberikan kontribusi dan menyelesaikan problem di masyarakat” Ungkap Moch. Khafidz Fuad Raya, M.Pd.I. selaku Wakil Lembaga Penelitian (Lemlit) IAI Dalwa dan Ketua Tim Ekspedisi Peneliti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *