Prodi SKI IAI Dalwa Mengadakan SPL ke Situs Sejarah di Surakarta

Selama dua hari, 5-6 Februari 2019 Program Studi (Prodi) SKI IAI Dalwa melakukan program SPL (Studi Pengayaan Lapangan) Mahasiswa ke situs-situs sejarah di kota Solo.

Rombongan mahasiswa terdiri dari 12 orang dan didampingi dosen pembimbing 5 orang yaitu Ust Sahri, Ust Samsul Huda, Ust Kholili Hasib, Ust Arif Rahman dan Ust Sirajul Munir.

Kunjungan pertama menuju Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo. Di PSPI rombongan diterima oleh Direktur PSPI, Arif Wibowo,M.Ag.

PSPI, sebagaimana diterangkan oleh Arif Wibowo, adalah lembaga riset yang khusus meneliti dan mengkaji sejarah Jawa, Islamisasi Para Sunan/Wali Songo dan murid-muridnya, naskah Islam berbahasa Jawa, dan Tantangan Kebudayaan.

Oleh Arif Wibowo, rombongan mahasiswa dibimbing ke tempat-tempat bersejarah. Antara lain ke Masjid Laweyan, masjid tertua di Surakarta. Keberadaan masjid yang awalnya pura Hindu ini mendahului Kerajaan Mataram Islam.

“Kita sedang di makam Kiai Ageng Henis disebelah masjid Laweyan. Kiai Ageng Henis ini adalah kiai yang membangun kota Islam surakarta. Dan pendiri industri batik. Namun namanya tenggelam seiring pengaruh Kristen Belanda yang masuk”, jelas Arif Wibowo.

Rombongan juga mengunjungi Keraton Surakarta dan Mangkunegaran. Dua istana yang memayungi negeri Islam Surakarta. Selain itu, rombongan diajak Arif Wibowo untuk melihat manuskrip-manuskrip kuno di Museum Radya.

“Banyak manuskrip yang belum dikaji. Ada Serat Yusuf ditulis dengan aksara jawa. Ada pula Karios Dajjal, kitab tentang tanda-tanda hari Kiamat yang ditulis dengan huruf Jawa tapi bunyi bahasa Arab.

Dua naskah itu menunjukkan bagaimana proses bahasa Jawa diislamkan dengan memasukkan unsur bahasa Arab Islam.

Pak Arif Wibowo melihat kenyataan ironis perihal lunturnya identitas Islam di Kota Solo.

Padahal dalam perjalanan sejarah, Kota Solo pernah menjadi ibu kota kerajaan mataram Islam. Perlawanan melawan penjajah juga pernah dilakukan umat Islam Solo dibawah pimpinan Ki Ageng Henis.

Tak hanya itu sosok Haji Samanhoedi, juga melakukan perjuangan dengan penggabuangan wacana Islam, ekonomi, dan politik dalam wadah Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikannya.

“Sayangnya ikon kota Solo justru sosok non-muslim. Padahal kota Solo dalam perjalanan sejarahnya tidak lepas dari perjuangan tokoh-tokoh Islam,” katanya di Ma’had pondok Insan Nusantara.

Dari SPL ini, ada banyak masalah yang perlu dikaji, diriset dan diperdalam khususnya mengenai khazanah Jawa Islam dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *