PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI PESANTREN TRADISIONAL; KURIKULUM, TUJUAN, BAHAN AJAR DAN METODE

Oleh: Moh. Tohiri Habib (Kaprodi PBA Fakultas Tarbiyah INI DALWA)

thohiry@gmail.com

Abstrak: pesantren tradisional adalah pusat pembelajaran bahasa Arab pada era awal masuknya Agama Islam di Indonesia. Bahkan metode pembelajaran bahasa Arab yang dianggap paling kuno, thoriqotul qowa’id wat tarjamah sampai detik ini masih dipakai dalam pembelajaran bahasa arab. Namun ada beberapa sisi lain pembelajaran bahasa Arab di pesantren mengalami beberapa perkembangan tersebab oleh perkembangan dunia pendidikan bahasa Arab.

Kata kunci: pembelajaran, pesantren tradisional, kurikulum, tujuan, bahan ajar, metode.

  1. Pendahuluan

Dalam proses belajar-mengajar (PBM) bahasa Arab akan terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari dan penerima pelajaran yang  dibutuhkannya.  Pendidik  adalah  seseorang  atau  sekelompok  orang  yang  berprofesi  sebagai pengolah  kegiatan  belajar-mengajar  dan  seperangkat  peranan  lainnya,  yang  memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar yang efektif.

Kegiatan belajar-mengajar bahasa Arab melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik),  tujuan  pembelajaran,  isi  pelajaran,  met ode  mengajar,  media,  dan  evaluasi.  Tujuan pembelajaran  adalah  perubahan  perilaku  dan  tingkah  laku  yang  positif  dari  peserta  didik  setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar, baik perubahan secara psikologis dalam tingkah laku ( over behaviour ), motorik, maupun gaya hidupnya.

Sementara itu, tujuan pembelajaran bahasa Arab seca ra umum adalah agar peserta didik mampu mengusai empat keterampilan (skills) bahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan membaca, keterampilan berbicara, dan keterampilan menulis. Untuk memperoleh keempat keterampilan ini, ada beberapa  hal  yang  perlu diperhatikan  oleh  pendidik antara lain kurikulum, target, bahan ajar dan metode.

Di Indonesia, perkembangan Bahasa Arab dengan Bahasa Inggris sangat berbeda. Kalau Bahasa Inggris hampir semua sekolah di segala tingkatan dan jurusan menyajikan pembelajaran bahasa internasional pertama ini. Pemandangan yang sangat berbeda dengan Bahasa Arab,  yang hanya disajikan di sekolah tertentu saja. Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia sementara ini masih didominasi di dunia pesantren baik pesantren tradisional maupun modern serta perguruan tinggi yang berbasis Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) baik swasta maupun negeri yang memiliki jurusan tadris maupun sastra Arab.

Pada kesempatan kali ini, penulis tidak akan menguraikan tentang pentingnya pendidikan Bahasa Arab ini. Akan tetapi penulis akan menguraikan realita yang terjadi antara model pembelajaran Bahasa Arab yang ada di pesantren tradisional.

Tulisan berikut akan menyingkap sejauh mana perkembangan pembelajaran bahasa Arab di pesantren tradisional. Bebrapa pertanyaan akan menjadi frame pembahasan tulisan ini. Antara lain: Apa yang dimaksud dengan pondok pesantren tradisional?, Bagaimana model pembelajaran bahasa Arab di pesantren tradisional?

Dan tujuan dari tulisan ini adalah sebagai berikut: Untuk mendiskripkan pengertian pondok pesantren tradisional, dan menjelaskan model pembelajaran bahasa Arab di pesantren tradisional.

 1 Pesantren Tradisional

Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren dari sudut historis kultural dapat dikatakan sebagai “training centre” yang otomatis menjadi pusat budaya Islam, yang disahkanatau dilembagakan oleh masyarakat, setidaknya oleh masyarakat Islam sendiri yang secara de facto tidak dapat diabaikan oleh pemerintah. Itulah sebabnya Nurcholish Madjid mengatakan bahwa dari segi historis, pesantren tidak .hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).[1]

Pesantren, secara sederhana mulanya dimengerti sebagai tempat mangkalnya sekelompok orang saleh yang ingin mendalami agama Islam, dengan seorang kyai tertentu sebagai tokoh spiritual mereka. Kata “santri” sendiri sebenarnya punya dua pengertian. Pertama, bisa berarti orang mendalami agama Islam. Kedua, bisa berarti juga orang saleh yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Pada perkembangan selanjutnya, setiap orang yang bermukim di pesantren, entah karena dipaksa oleh orang tua lantaran biaya pendidikan yang mahal, atau karena frustasi dan karenanya ia tetap bandel di pesantren tanpa menunjukkan sedikitpun tanda-tanda orang saleh,  tetap disebut santri, itu soal lain.

Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam Tradisional di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Berdasarkan jumlah siswa atau santrinya, pesantren dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, antara lain: pesantren kecil, yaitu pesantren yang biasanya mempunyai jumlah santri di bawah seribu dan pengaruhnya terbatas pada tingkat kabupaten, pesantren menengah, yaitu pesantren yang memiliki jumlah santri antara 1000 sampai dengan 2000 orang, pesantren menengah ini biasanya memiliki pengaruh dan menarik santri-santri dari beberapa kabupaten, dan pesantren besar, yaitu pesantren yang mempunyai jumlah santri lebih dari 2000 orang yang berasal dari berbagai kabupaten dan propinsi. Selain itu, dikenal pula istilah-istilah pesantren, seperti: Pesantren Tradisional,  Pesantren Modern dan Pesantren Kilat. Pesantren tradisional atau  pesantren salafiyah adalah pesantren yang  tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Sistem madrasah atau jenjang-jenjang juga diterapkan untuk lebih memudahkan sistem pengajaran yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, pesantren ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Misalnya, Pesantren Lirboyo dan Ploso di Kediri, Pesantren Aslakul Huda di Pati dan pesantren Tremas di Pacitan. Pesantren modern atau pesantren khalafi adalah pesantren yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam sistem madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka tipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren.Misalnya, Pondok Modern Gontor di Ponorogo yang tidak lagi mengajarkan kitab-kitab Islam klasik atau Pesantren Tebuireng dan Rejoso di Jombang yang telah membuka SMP, SMA dan universitas namun tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.

Pesantren (pondok pesantren) merupakan institusi sosial keagamaan yang menjadi wahana pendidikan bagi umat Islam yang ingin mendalami ilmu-ilmu keagamaan (Rafiq Zainul Mun’im, 2009). Secara umum, pesantren memiliki tipologi yang sama, yaitu sebuah lembaga yang dipimpin dan diasuh oleh kiai dalam satu komplek yang bercirikan:

  1. adanya masjid atau surau sebagai pusat pengajaran dan
  2. asrama sebagai tempat tinggal santri, di samping rumah tempat tinggal kiai, dengan
  3. “kitab kuning” sebagai buku pegangan.

Menurut Mustofa Bisri (2007: 11) di samping ciri lahiriah tersebut, masih ada ciri umum yang menandai karakteristik pesantren, yaitu kemandirian dan ketaatan santri kepada kiai yang sering disinisi sebagai pengkultusan.

Pesantren salaf adalah pesantren yang memiliki karakteristik khusus, yakni salaf (tradisional). Menurut Zamakhsyari Dhofier (1994: 50), ada beberapa ciri pesantren salaf atau tradisional, terutama

  1. Dalam hal sistem pengajaran dan materi yang diajarkan. Pengajaran kitab-kitab Islam klasik atau sering disebut dengan “kitab kuning”, karena kertasnya berwarna kuning, terutama karangan-karangan ulama yang menganut faham Syafi’iyah. Semua ini merupakan pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren tradisional. Abdurrahman Wahi]d (2010: 71) mencatat bahwa ciri utama dari pengajian pesantren tradisional ini adalah cara pemberian pengajarannya yang ditekankan pada penangkapan harfiah (litterlijk) atas suatu kitab (teks) tertentu.
  2. Pendekatan yang digunakan adalah menyelesaikan pembacaan kitab (teks) tersebut, untuk kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kitab (teks) lain
  3. Sistem individual dalam sistem pendidikan Islam tradisional disebut sistem
  4. sorogan yang diberikan dalam pengajian kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan Al-Quran.
  5. Metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren tradisional adalah sistem bandongan atau seringkali juga disebut sistem weton. Dalam sistem ini sekelompok murid (antara 5 sampai 500 orang) mendengarkan seorang guru membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memerhatikan bukunya atau kitabnya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah yang arti bahasanya lingkaran murid, atau sekelompok siswa yang belajar di bawah bimbingan seorang guru (Zamakhsyari Dhofier, 1994: 28).
  6. Ciri lain yang didapati di pesantren salaf adalah mulai dari budaya penghormatan dan rasa ta’zhim pada guru dan kiai, kegigihan belajar yang disertai sejumlah ritual tirakat: puasa, wirid, dan lainnya, hingga kepercayaan pada barakah (Rodli, 2007).
  1. Pengajaran Bahasa Arab di Pesantren Tradisional

Dalam konteks pendidikan di pesantren, menurut Nurcholish Madjid, istilah kurikulum tidak dikenal di dunia pesantren, terutama masa prakemerdekaan, walaupun sebenarnya materi pendidikan sudah ada dan keterampilan itu ada dan diajarkan di pesantren. Kebanyakan pesantren tidak merumuskan dasar dan tujuan pesantren secara eksplisit dalam bentukkurikulum. Tujuan pendidikan pesantren ditentukan oleh kebijakan Kiai, sesuai dengan perkembangan pesantren tersebut termasuk di dalamnya adalah pembelajaran bahasa Arab[2].

Pada pondok pesantren tradisional, pembelajaran bahasa ini lebih diutamakan pada penguasaan tata bahasa. Tata bahasa ini dipelajari dalam dua pembahasan utama yang dikenal dengan ilmu nahwu dan sharaf. Kedua ilmu ini merupakan hal urgen yang harus dikuasai untuk bisa mengetahui struktur dari bahasa yang menjadi bahasa persatuan umat Islam ini. Dalam Bahasa Inggris, nahwu dan sharaf biasa disebut dengan grammar atau structure, yaitu yang membahas seputar bentuk dan perubahan kata serta penggunaannya dalam suatu kalimat. Di pesantren tradisional, pembelajarann nahwu-sharaf ini bertingkat dengan berpedoman kitab salaf atau klasik dalam ilmu nahwu sharaf. Semisal kitab Jurumiyah, ‘Imrithi, Alfiyah, Amtsilatut Tashrifiyah, Maqsud, dan sebagainya.

Selain dalam model pembelajarannya, dalam pembelajaran sehari-hari juga dengan Bahasa Arab, yaitu ketika mempelajari semua mata pelajaran atau dalam mengkaji suatu ilmu, kitab yang dipakai atau dikaji dalam pelajaran tersebut merupakan kitab berbahasa Arab atau lebih dikenal dengan kitab kuning yang kemudian diartikan per kata. Sehingga langsung tahu bentuk-bentuk dari bahasa ini dan mengerti arti per kata yang disajikan dalam kitab mata pelajaran tersebut.

Selain itu, terkait dengan output dari model pembelajaran di pesantren tradisional ini, para santri lulusan ini memiliki kualitas pemahaman dalam hal memahami struktur kalimat dan pemaknaan per kata.

Akan tetapi, pada pesantren modern ini, para santri kurang memiliki wawasan dalam hal qoidah atau struktur kalimat. Sehingga dalam praktinya, istilah grammar kurang diperhatikan. Dan biasanya, tidak ada kitab rujukan khusus sebagaimana yang dilakukan di pesantren tradisional sebagaimana penulis sampaikan di atas. Sehingga ketika dibandingkan dengan lulusan pondok tradisional, santri modern memiliki kekurangan dalam hal grammar atau struktur tata bahasa akan tetapi memiliki keunggulan dalam hal percakapan dan komunikasi Bahasa Arab aktif dan tsaqafah (baca:wawasan) dalam hal kosa kata.

  1. Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu instrumen dari suatu lembaga pendidikan, termasuk  pendidikan pesantren. Untuk mendapatkan gambaran tentang pengertian kurikulum, akan disinggung terlebih dahulu definisi tentang kurikulum. Menurut Iskandar Wiryokusumo, kurikulum adalah “Program pendidikan yang disediakan sekolah untuk siswa”.[3]

Sementara itu, menurut S. Nasution, kurikulum adalah “Suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung-jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya”.[4]

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa kurikulum pada dasarnya merupakan seperangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang diidamkan. Pesantren dalam kelembagaannya, mulai mengembangkan diri dengan jenis dan corak pendidikannya yang bermacam-macam. Pesantren besar, pesantren Tebuireng Jombang, misalnya, di dalamnya telah berkembang madrasah, sekolah umum, sampai perguruan tinggi yang dalam proses pencapaian tujuan institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi, pesantren yang mengikuti pola salafiyah(tradisional), mungkin kurikulum belum dirumuskan secara baik.

Kurikulum pesantren “salaf” yang statusnya sebagai lembaga pendidikan non-formal hanya mempelajari kitab-kitab klasik yang meliputi: Tauhid, Tafsir, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Tasawwuf, Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Balaghah danTajwid), Mantiq dan Akhlak. Pelaksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam kitab. Jadi, ada tingkat awal, menengah dan tingkat lanjutan.

Kurikulum Bahasa Arab Model salaf (Tradisional) Tidak berlebihan jika pesantren salaf merupakan genue bagi berkembangnya pesantren di Indonesia. Hal ini dikarenakan pesantren salaf merupakan manifestasi dunia pesantren yang berusaha untuk tetap berada dalam rel tujuan awal pendirianya, yakni sebagai lembaga syi’ar (dakwah) dan pendidikan agama Islam. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, pesantren salaf di awal perkembangannya hanya mengajarkan agama dengan sumber mata pelajaran berupa kitab-kitab berbahasa Arab yang masuk dalam kategori mu’tabarah. Pelajaran yang biasanya dikaji meliputi: Al Qur’an dengan tajwid dan tafsirnya; hadits dengan musthalahnya, bahasa Arab dengan nahwu, sharf, balaghah, arudl, dan mantiqnya; fiqih dengan hukum-hukum dan ushul fiqihnya; serta akhlaq dengan warna tasawufnya. Kitab-kitab yang dipakai, pada umumnya juga terbatas pad hasil karya ulama abad pertengahan (antra abad 12 – 15) yang kemudian lebih dikenal dengan istilah kitab kuning. Selain ilmu agama, bahasa Arab merupakan pelajaran pokok yang harus diikuti dan dikuasai oleh para santri. Sebab, tingkat penguasaan terhadap tata bahasa Arab seringkali dijadikan tolok ukur kualitas seorang santri untuk mendapatkan predikat Kiai. Maka, tidak heran jika kitab-kitab nahwu, (Jurumiyah, Mutamimah, Imrithi, serta Al fiyah), kitab-kitab sharah (al Amstilah at Tashrifiyah, Qawa’id al I’lal, Kaelani), serta kitab-kitab ilmu bahasa lainnya menjadi santapan keseharian di pesantren salaf. Selain sebagai standar kualitas determinasi tinggi dalam mempelajari ilmu bahasa (nahwu dan sharaf) di kaangan santri salaf juga disebabkan oleh berkembangnya jargon “As Sharfu Umm al Ulum wa al nahwu abuuhu” (sharaf adalah ibunya ilmu dan nahwu adalah bapaknya). Dalam tradisi salaf, penguasaan bahasa Arab tidak diikutinya kesungguhan dalam mempelajari ilmu tata bahasa Arab dengan usaha aplikatif untuk mempraktekkan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berakibat pada minimnya tingkat penguasaan santri terhadap mufradat bahasa Arab, sehingga tingkat keilmuan bahasanya adalah penguasaan bahasa pasif, bukan bahasa aktif. Maksudnya adalah bahwa pesantren salaf lebih mengutamakan penguasaan teks daripada penguasaan praktek. Singkatnya, ciri-ciri kurikulum bahasa Arab tradisional dapat ditabulasi sebagai berikut:

  1. Lebih memfokuskan pada penguasaan gramatika bahasa (nahwu dan sharf) yang diimplemetasikan ke dalam bentuk pemahaman teks kitab-kitab kuning.
  2. Tidak mementingkan perkembangan perubahan kosakata baru (al mufrodaat al muta’akhirah) Tidak adanya praktek berbahasa (al muhadatsah) dalam percapakan sehari-hari.
  3. Mengandalkan kosakata dari perbendaharaan kitab-kitab klasik. Memfokuskan pada kedisiplinan makna teks, ketimbang pemahaman komunikasi (percakapan).

Dari penjabaran ciri-ciri tersebut, diketahui mengapa metode salaf mempunyai penguasaan pasif. Namun kelebihan ciri metode ini adalah pada kemampuan penerjemahan teks-teks Arab. Pemahaman keagamaan yang lebih mendalam dari hasil karena proses analisis kebahasaan yang komprehensif. Ini berbeda sama sekali dengan kurikulum Bahasa Arab Model Pesantren modern muncul sebagai usaha dunia pesantren untuk mengakomodasi perubahan zaman dan arus modernisasi. Dengan kata lain, pesantren moden muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap ortodoksi paradigma pesantren salaf dalam menyikapi perubahan-perubahan yang ada, termnasuk respons terhadap penguasaan bahasa Arab yang pasif. Tetapi, sama halnya dengan pesantren salaf, pesantren modern juga merupakan lembaga pendidikan yang memiliki materi dan metode tersendiri dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam perkembangannya, pesantren modern lebih identik dengan pesantren bahasa (dalam pengertian bahasa aktif). Dalam dunia pesantren modern penguasaan bahasa (Arab dan Inggris) seringkali dijadikan tujuan pendidikan dan standard kecerdasan dan keberhasilan seorang santri. Bagi mereka, bahasa merupakan alat komunikasi yang harus dikuasai untuk dapat bersaing dalam kehidupan modern. Sehingga bahasa harus dipakai, dikomunikasikan, tanpa harus takut menyalahi kaidah-kaidahnya yang baku. Hal ini didasarkan pada kaidah “al Lughah ma yuqaal wa laisa ma yanbaghi an yuqaal” (Bahasa adalah apa yang diucapkan, bukan apa yang seharusnya diucapkan). Selain materi keagamaan, pesantren modern juga sudah mengajarkan materi pelajaran umum dan kegiatan ekstra kurikuler. Dalam hal ini, para santri memiliki kegiatan di luar jam pelajaran,s eperti olah raga, kesenian, keterampilan, pidato dalam tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia). Pramuka dan organisasi pelajar. Disinilah pesaren modern berusaha mencari identitas, dengan merombak tatanan yang telah dianut secara konservatif oleh sistem pesantren salaf.

Kurikulum bahasa Arab tradisonal mempunyai kelebihan memahami teks dan penguasaan penerjemahan. Hal ini dipengaruhi oleh kedisiplinan untuk memegang gramatika (nahwu dan sharf) yang diimplementasi ke dalam penerjemahan kitab-kitab klasik. Bahasa Arab dalam metode tradisional mempunyai kelemahan pada sisi praktek kebahasaan (komunikasi), atau dengan kata lain model ini membentuk pola kebahasaan pasif.

  1. Tujuan

Di antara Tujuan pembelajaran bahasa Arab di pesantren tradisional adalah:

  1. Menghafal kosa kata dan memahami arti bahasa sumber/asing lewat terjemahan, setelah terlebih dahulu menghafalkan kaidah-kaidah bahasanya.
  2. Peserta didik  harus  tahu pentingnya  bahasa  sumber/asing,  membandingkannya  dengan  bahasabahasa lain, misalkan bahasa asal (bahasa ibu), dengan demikian maka pengajar akan lebih leluasa meluangkan waktunya mengajarkan tentang bahasa.
  3. Memfokuskan pada  keakuratan  bahasa  (Language  Accuracy)  dalam  memahami  kaidah-kaidah bahasa,  ketika  melakukan imla (dikte),  menerjemahkan  dan  meminimalisir  keahlian  dalam berbahasa (Language Proficiency).
  4. Mementingkan materi yang terdapat dalam buku ajar dan menelaah kaidah-kaidah yang terdapat di dalamnya, teks-teks, dan latihan-latihan.
  5. Mementingkan aspek bacaan dan aspek bacaan tersebut diambil dari latihan menerjemahkan dari bahasa asal/ibu ke bahasa sumber/asing dan juga sebaliknya.
  6. Banyak latihan menerjemahkan kalimat-kalimat dari bahasa asal/ibu ke bahasa sumber/asing dan sebaliknya, serta merangkai kalimat-kalimat yang terputus-putus.[5]
    1. Bahan Ajar

Bahasa Arab merupakan pelajaran pokok yang harus diikuti dan dikuasai oleh para santri. Sebab, tingkat penguasaan terhadap tata bahasa Arab seringkali dijadikan tolok ukur kualitas seorang santri untuk mendapatkan predikat Kiai. Maka, tidak heran jika kitab-kitab nahwu, (Jurumiyah, Mutamimah, Imrithi, serta Al fiyah), kitab-kitab sharah (al Amstilah at Tashrifiyah, Qawa’id al I’lal, Kaelani), serta kitab-kitab ilmu bahasa lainnya menjadi santapan keseharian di pesantren salaf. Selain sebagai standar kualitas determinasi tinggi dalam mempelajari ilmu bahasa (nahwu dan sharaf) di kaangan santri salaf juga disebabkan oleh berkembangnya jargon “As Sharfu Umm al Ulum wa al nahwu abuuhu” (sharaf adalah ibunya ilmu dan nahwu adalah bapaknya). Dalam tradisi salaf, penguasaan bahasa Arab tidak diikutinya kesungguhan dalam mempelajari ilmu tata bahasa Arab dengan usaha aplikatif untuk mempraktekkan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berakibat pada minimnya tingkat penguasaan santri terhadap mufradat bahasa Arab, sehingga tingkat keilmuan bahasanya adalah penguasaan bahasa pasif, bukan bahasa aktif. Maksudnya adalah bahwa pesantren salaf lebih mengutamakan penguasaan teks daripada penguasaan praktek

  1. Metode

Metode berasal dari kata methodosdari bahasa latin, sedangkan methodositu sendiri berasal dari akar kata metadan hodos. Metaberarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan hodosberarti jalan, cara, arah. Dalam pengertian yang lebih luas, metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya.

Sebagai alat, metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah sehingga lebih mudah dipecahkan dan dipahami.

Metode adalah upaya mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode adalah a way in achieving something.

Metode merupakan instrumen dan dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau alat yang mempunyai fungsi ganda, yaitu yang bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Oleh karena itu, secara umum metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu, cara itu mungkin baik mungkin tidak baik. Metode juga dapat diartikan sebagai cara untuk mempermudah pemberian pemahaman kepada anak didik mengenai bahan atau materi yang diajarkan.

Secara umum, metode mengajar terbagi dua; tradisional dan modern. Dalam istilah lain, para ahli menyebut  klasifikasi  metode  ini  adalah  konvensional  dan  inkonvensional .

 Metode  mengajar konvensional  (tradisional)  adalah  metode  mengajar  y ang  lazim  dipakai  oleh  guru.  Metode inkonvensional atau modern adalah suatu teknik meng ajar yang baru berkembang dan belum lazim digunakan  secara  umum.  Metode  ini  masih  merupakan  metode  yang  baru  dikembangkan  dan diterapkan di beberapa sekolah tertentu, yang mempu nyai peralatan dan media yang lengkap serta guru-guru yang ahli menanganinya.

  1. Arsyad mengungkapkan bahwa metode pengajaran bahasa asinguntuk pengajaran bahasa Arab merupakan ilmu yang baru berkembang kemudian, jauh di belakang perkembangan metode pengajaran bahasa Inggris. Meskipun demikian, bukan berarti me tode pengajaran bahasa Arab selama ini yang masih bersifat ‘tradisional’ itu tidak berhasil, bahkan dianggap cukup banyak me mbawa keberhasilan.

Beberapa metode pembelajaran bahasa Arab, diantaranya adalah: Metode Grammar dan Terjemah//Grammar and Translation Method

Metode Grammardan Terjemah merupakan metode paling tua dari semua metode pembelajaran bahasa Arab. Metode ini dikenal di Amerika Serikat di akhir abad ke-19, dengan nama bermacam-macam  di  antaranya  dengan  nama  metode  Prusia.  Pada  tahun  1930-an  terkenal  dengan  metode Grammar dan Terjemah karena hanya memfokuskan pada kajian grammar atau tata bahasa dengan pola pengajaran teori bahasa secara langsung yaitu menerjemahkan kaidah-kaidah tata bahasa, kalimatkalimat, dan susunan kalimat dari bahasa sumber/asing ke bahasa asal/ibu.[6]

Pembelajaran  metode Qawaiddan  Terjemah  ini  dapat  dilakukan  dengan  cara,  yaitu  pengajar mengambil salah satu kitab nahwu yang di dalamnya terdapat beberapa kaidah bahasa dengan beberapa penjelasannya disertai dengan kamus 2 bahasa (bahasa kitab/asing dan bahasa pengajar).

  1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan beberapa hal sebagaimana berikut: Pesantren tradisional atau  pesantren salafiyah adalah pesantren yang  tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Sistem madrasah atau jenjang-jenjang juga diterapkan untuk lebih memudahkan sisten pengajaran yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, pesantren ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.

Pembelajaran bahasa Arab di pesantren tradisional memiliki model yang berbeda dengan pembelajaran bahasa arab di pesantren modern maupun di sekolah atau perguruan tinggi. Dari sisi kurikulum, materi, tujuan, metode dan banyak hal lainya.

Daftar Pustaka

Abdul Aziz ibn Ibrahim al-’Ushaili, Tharâiq Tadrîs al-Lughah al-‘Arabiyah lin Nâtiqîn bi Lughatin Ukhrâ(Riyadh: Jami’ah Imam Muhammad ibn Su’ud al-Islamiyah, 2002 M/1423 H

Ahmad fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab(Malang: Misykat, 2005

Iskandar Wiryokusumo dan Usman Mulyadi, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum(Jakarta: Bina Aksara, 1988)

  1. Khairon Bafadhil, Al Muqaddimah fi Ma’rifati Ilm Al Lughah, (Pati: Cv. Rahmat, 1987), hal. 19 M. Ali Mudhafir, Al Mabadi’ fi ‘Ilm Al Lughah, (Rembang: Al Hikmah, 1987),

Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan(Jakarta: Paramadina, 1997)

  1. Nasution, Kurikulum, (Jakarta: Bina Aksara, 1988)

Raihani, Curriculum Construction In The Indonesian Pesantren: A comparative case study of curriculum development in two pesantrens in South Kalimantan.

http://webdik.geodik.com/2015/01/bahasa-arab-di-dua-pesantren/#ixzz3cKSGZuly

[1] Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997), h. 59

[2] Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan(Jakarta: Paramadina, 1997), hal. 59

[3] Iskandar Wiryokusumo dan Usman Mulyadi, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum(Jakarta: Bina

Aksara, 1988), hal. 6.

[4] S. Nasution, Kurikulum,hal. 5

[5] Ahmad fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab(Malang: Misykat, 2005), hal. 32

[6] Abdul Aziz ibn Ibrahim al-’Ushaili, Tharâiq Tadrîs al-Lughah al-‘Arabiyah lin Nâtiqîn bi Lughatin Ukhrâ(Riyadh: Jami’ah

Imam Muhammad ibn Su’ud al-Islamiyah, 2002 M/1423 H), hal. 33-34.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *