Kajian Hadist Arbain Nawawi

الأربعين النووية فى الأحاديث الصحيحة النبوية
للإمام يحي بن شرف الدين النووي
Oleh : Miqdad Basalamah
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين باعث الرسول صلواته ,وسلامه عليهم إلى المكلفين أحمده على جميع نعمه و أسأله المزيد من فضله وكرمة وأشهد أن لاإله إلاالله الواحد القاهر وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله صلواته وسلامه عليه وعلى سائر النبيين والمرسلين واله كلٍ وسائر الصالحين.
Rasullullah SAW bersabda “Barang siapa dari umatku yang hafal 40 hadist dari urusan agama, maka Allah menjadikannya dalam golongan orang – orang faqih dan orang – orang alim” berangkat dari hadist diatas banyak sekali ulama yang mengumpulkan 40 hadist, dari banyaknya Imam Nawawi berkata dalam muqoddimahnya “Hingga tak terhitung “ walaupun hadist diatas sanadnya dhoif(lemah dalam periwayatannya) hingga tak layak dijadikan untuk sumber hukum, tapi ulama bersepakat dalam bolehnya pengamalan hadist dhoif untuk tambahan awal maka dari itu jangan dengarkan mereka yang mengharamkan suatu ritual keagamaan dengan alas an hadistnya dhoif atau lemah, buktinya ulama sekaliber Imam Nawawi dan ulama lainnya yang juga para pakar hadist membolehkan pengamalannya bahkan mengamalkan hadist dhoif.
Dalam pengumpulan hadist, Imam Nawawi melakukan hal yang berbeda dari ulama lainnya yang mengumpulkan hadist dengan satu tema ada yang mengumpulkan 40 hadist dalam persoalan pokok – pokok agama saja, ada yang cabang – cabangnya saja, ada yang jihad saja dan lain – lain, tetapi Imam Nawawi merangkainya dengan berbagai tema yang mencakup semuannya bahkan tiap hadistnya adalah qaidah asal dan qaidah – qaidah agama yang ulama berkomentar tentang hadist – hadist itu adalah ruang lingkup agama atau setengahnya agama dan berbagai komentar lainnya, Imam Nawawi juga berupaya menyaring setiap hadist yang masuk dalam kitabnya hanya hadist dengan derajat shohih (hadist dengan derajat tertinggi) sehingga bila kita perhatikan Imam Bukhori dan Imam Muslim mendominasi periwayatan kumpulan hadist – hadist ini, beliau juga tidak mencantumkan sanad – sanadnya agar mudah dihafal dan lebih merata manfaatnya.
” الحديث الأول “
عن أبى حفص عمر بن خطاب رضى الله عنهما قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إِنَّماَ الأَعْمَالُ بِالنِّيَات , وَ إِنَّمَا لِكُلِ اْمرئٍ ما نوى ,فمن كانت هِجْرَتُه الى الله ورسولِه فَهِجْرَتُه الى اللهِ ورسولِهِ ومن كانت هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أو امرَأَةٍ يُنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلِىَ مَا هَاجَرَ إِليْهِ . رواه البحارى والمسلم

Hadist pertama dalam kitab Arbain Nawawiyah dari sahabat nabi SAW. Sayyidina Umar bin Khottob Ra, beliau adalah orang pertama yang disandangkan gelar Al-Amirul Mukminin, banyak pendapat yang menyebutkan asal mula gelar itu, salah satunya karena pada suatu hari beliau berkata “kalian adalah orang – orang mukmin dan aku pemimpinnya” kemudian yang lainnya berkata “kalau begitu anda adalah pemimpin orang – orang mukmin”, dalam bahasa arab pemimpin – pemimpin orang mukmin adalah Al –Amirul Mukminin, sedangkan nasab Sayyidina Umar bin Khottob bersambung dengan nasab Nabi SAW di bapak ke delapan Ka’ab bin Lu’ay Al-Adawi Al-Quraisy.
Hadis ini adalah pilar besar syariat islam, hadis ini menjadi sebab hukum wajibnya niat di hamper semua ibadah, menerangkan juga bahwasannya setiap amal seseorang tergantung pada niatnya, hingga terkadang satu jenis ibadah tapi berbeda pahalanya, seperti dua orang imam yang shalat berjamaah yang satunya niat menjadi imam dan yang lainnya tidak niat menjadi imam maka yang pertama mendapat pahala dan keutamaan berjama’ah dan satunya hanya mendapatkan pahala shalatnya saja, padahal kedua-duanya melakukan shalat yang sama dalam rakaat yang sama dan masih banyak contoh lainnya.
Dalam kitab futuhat wahbiyyah syarh dari arba’in an- nawawiyyah karya syekh Ibrahim bin mar’iy bin ‘athiyyah menjelaskan maksud dari sabda beliau SAW “barang siapa yang berhijrah pada allah dan rasulnya maka hijrahnya kepada allah dan rasulnya” maksudnya siapapun yang berhijrah untuk allah dan rasulnya maka hijrahnya diterima oleh allah dan rasulnya,
“Hijrah” secara bahasa berarti “Tark” yaitu meninggalkan, sementara secara pemahaman agana ialah melepas diri dari kekafiran dan memeluk agama islam, haqiqatnya adalah melepas diri dari yang dibenci allah menuju yang disenanginya / diridhoinya, dalam dunia islam hijrah ada dua segi, yang pertama pindah dari tempat yang menakutkan, menuju tempat yang aman seperti yang terjadi di zaman nabi SAW, hijrah ke habasyah untuk mencari keamanan karena takut didholimi bila terus berada di makkah dan hijrah dari makkah menuju madinah untuk menyatukan kekuatan dan membangun kerajaan islam disana, yang kedua adalah hijrah dari kekafiran menuju keislaman seperti yang disinggung sebelumnya.
Berlandasan hadist ini mari kita cantumkan niat – niat baik kita pada amal – amal kita, tiap makan dan minum jangan lupa niatkan untuk memperkuat ibadah, tiap masuk masjid jangan lupa niatkan I’tikaf, tiap tidur jangan lupa niatkan agar bisa beribadah di hari esok, bila rekreasi atau liburan niatkan untuk mendinginkan pikiran dan melepas kepenatan agar bisa beribadah dengan pikiran yang sehat dan segar, dan pasang niat baik pada setiap aktivitas kita, walaupun semua itu mubah akan berpahala bila di niatkan ibadah seperti yang di sebutkan Imam Husein bin Ahmad Al-Arsalan dalam Shofwatu Zubad,
لَكِنْ اِذَا نَوَى فِى أَكْلِهِ القُوَى # لِطاَعَةِ الله لَهُ مَا قَدْ نَوَى
Artinya : Akan tetapi bila ia niatkan dalam maknanya (amal yang mubah) kuat untuk taat pada Allah SWT, maka ia akan diganjar sesuai dengan niatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *